Puasa Bedug: Tradisi Melatih Iman Anak Sejak Dini
Bagaimana cara terbaik melatih anak-anak agar siap menjalankan rukun Islam ini secara penuh ketika dewasa? Jawabannya telah hadir dalam bentuk tradisi turun-temurun di Indonesia, yang dikenal sebagai Puasa Bedug.
Mari kita ingat kembali diri kita yang kecil dahulu, duduk di depan jam dinding, menunggu azan Zuhur. Begitu suara dentuman bedug dan lantunan azan terdengar, kita langsung menyerbu makanan dengan perasaan bangga karena berhasil puasa setengah hari.
Puasa bedug adalah sebuah kearifan lokal yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia sejak era Walisongo.
Tradisi ini melibatkan orang tua yang menyuruh anaknya berpuasa sejak pagi, namun memperbolehkan mereka untuk berbuka atau makan ketika azan Zuhur berkumandang. Setelah beristirahat dan makan, anak tersebut disuruh untuk berpuasa kembali hingga waktu Magrib tiba.
Tujuan utama dari puasa bedug ini sangat mulia, yakni sebagai bentuk pembiasaan atau latihan (tamrin) agar anak-anak secara bertahap terbiasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Harapannya, ketika mencapai usia baligh, mereka akan mampu melaksanakan ibadah puasa secara penuh tanpa kesulitan yang berarti.
Menariknya, tradisi Puasa Bedug ini memiliki kemiripan prinsip yang kuat dengan metode yang pernah dilakukan oleh para Sahabat Nabi Muhammad saw. di masa awal Islam.
Hal ini termaktub dalam kitab Shahih Bukhari, dari riwayat Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Beliau menceritakan bahwa pada hari Asyura’, Nabi saw. memerintahkan agar siapapun yang sudah makan di pagi hari untuk berpuasa hingga Magrib, dan yang telah berpuasa untuk melanjutkannya.
“Rubayyi’ berkata, kemudian kami mengajak anak-anak untuk berpuasa, kami buatkan bagi mereka mainan dari kain. Jika mereka menangis, maka kami beri mainan itu, begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka.”
Kisah Sahabat di atas menunjukkan adanya upaya serius dan kreatif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari rasa lapar dan haus. Sama seperti puasa bedug yang memberikan jeda (berbuka Zuhur) agar anak tidak trauma dan tetap termotivasi untuk melanjutkan puasa.
Pada akhirnya, tradisi Puasa Bedug adalah bukti bahwa pendidikan agama terbaik datang dalam dosis yang bertahap, penuh kasih sayang, dan didukung oleh kearifan lokal. Ia mengubah kewajiban menjadi sebuah tantangan yang bisa ditaklukkan.
Sumber Pondok Lirboyo
#Hikayah #pondokbasmala #basmalagubug #sdbasmala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar