Ads block

Banner 728x90px

Silaturahmi dan kekeluargaan



Mengenal Hakikat Silaturahmi
Mampu Silaturahmi Luring, tapi Memilih Daring

Keistimewaan Silaturahmi

Dalam hadis Nabi Muhammad saw., silaturahmi menempati posisi yang sangat penting. Banyak sekali anjuran dan pesan Rasulullah saw. yang menegaskan urgensi menjaga hubungan kekerabatan dan persaudaraan. Salah satu keutamaannya adalah keterkaitan langsung antara silaturahmi dengan kelapangan rezeki dan keberkahan umur.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Hadis ini meletakkan silaturrahmi bukan pada level anjuran sosial, melainkan sebagai konsekuensi iman. Artinya, iman tidak cukup berhenti di sajadah; ia harus berjalan, menyapa, dan merangkul.

Dalam menegaskan hal itu, Qāḍī ‘Iyāḍ menyatakan konsekuensi bagi orang yang memutus tali silaturahmi:

لَا خِلَافَ أَنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ وَاجِبَةٌ فِي الْجُمْلَةِ وَقَطِيعَتَهَا مَعْصِيَةٌ كَبِيرَةٌ 

“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa menyambung silaturrahmi hukumnya wajib secara umum, dan memutuskannya adalah maksiat besar.”

Namun demikian, muncul pertanyaan mendasar: siapakah yang secara syar’i termasuk dalam cakupan silaturahmi yang wajib dijaga? Apakah ia terbatas pada kerabat sedarah, ataukah meluas hingga relasi sosial yang lebih luas dalam bingkai persaudaraan keimanan dan kemanusiaan?

Hakikat Silaturrahmi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silaturahmi diartikan sebagai tali persahabatan atau persaudaraan, sedangkan bersilaturahmi berarti menjalin kembali tali persahabatan. Definisi ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan fisik atau basa-basi sosial, melainkan ikhtiar sadar untuk merawat dan menghidupkan hubungan antarmanusia.

Namun demikian, apabila ditinjau dari perspektif bahasa Arab, makna silaturahmi memiliki batasan yang lebih spesifik. Kata silaturraḥmi secara literal berarti menyambung hubungan kekerabatan, bukan sekadar hubungan sosial secara umum. Penegasan ini dapat ditemukan dalam kitab al-Qāmūs al-Fiqhī ketika menjelaskan hadis Nabi ﷺ:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan raḥm dalam hadis tersebut adalah kerabat, bukan selainnya. 

Selain itu, Imam Nawawi menjelaskan bahwa silaturahmi bukan hanya sekadar kunjungan semata, tapi juga bisa berupa memberikan bantuan.

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الإِحْسَانُ إِلَى الأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ، فَتَارَةً تَكُونُ بِالْمَالِ، وَتَارَةً بِالْخِدْمَةِ، وَتَارَةً بِالزِّيَارَةِ وَالسَّلَامِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ. 

“Adapun silaturahmi (menyambung hubungan kekerabatan) adalah berbuat baik kepada para kerabat sesuai dengan kondisi orang yang menyambung dan orang yang disambungi. Kadang dilakukan dengan harta, kadang dengan bantuan atau pelayanan, kadang dengan kunjungan dan salam, serta dengan cara-cara kebaikan lainnya.”

Terlihat jelas, menurut Imam an-Nawawi, silaturahmi itu lentur dan kontekstual—bukan satu model baku. Intinya bukan datangnya, tetapi pedulinya. Jika hanya kunjungan fisik yang dianggap sah, banyak orang saleh hari ini bisa “gugur administratif” hanya karena sibuk. Padahal, kebaikan tidak pernah kehabisan jalan.

Mampu Silaturrahmi Luring, Tapi Memilih Daring?

Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi sebelumnya, lebih lanjut, Qāḍī ‘Iyāḍ menjelaskan bahwa silaturrahmi memiliki beberapa tingkatan.

Silaturrahmi memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Memutusnya termasuk dosa besar, sedangkan menjaganya bisa dilakukan dalam berbagai level.

-Tingkat tertinggi: menjalin hubungan dengan perhatian, bantuan, dan kehadiran nyata.

-Tingkat terendah: tidak memutus hubungan, misalnya dengan menyapa, berbicara baik, atau memberi salam.

Hukumnya juga bisa berbeda sesuai kondisi: kadang wajib, kadang sunah, tergantung kemampuan dan kebutuhan.

Jika seseorang hanya melakukan sedikit silaturrahmi padahal mampu melakukan lebih, maka ia belum dianggap menyambung silaturrahmi secara sempurna, tetapi hanya tidak memutuskannya saja.  

Dengan logika ini, dapat dipahami bahwa ketika seseorang mampu bersilaturrahmi secara langsung (luring), namun sengaja membatasi diri hanya pada komunikasi virtual, maka ia belum dapat disebut sebagai orang yang benar-benar bersilaturrahmi. Ia aman dari dosa memutus hubungan, tetapi belum sampai pada derajat menyambung yang dituntut sesuai kemampuannya.

Sumber postingan FB Pondok Lirboyo 

#pondokgubug #ypisbasmala #sdtahfidz #tpapwrmatabangsa #fulldaycare

POSO MBEDUG



Puasa Bedug: Tradisi Melatih Iman Anak Sejak Dini

Bagaimana cara terbaik melatih anak-anak agar siap menjalankan rukun Islam ini secara penuh ketika dewasa? Jawabannya telah hadir dalam bentuk tradisi turun-temurun di Indonesia, yang dikenal sebagai Puasa Bedug.

Mari kita ingat kembali diri kita yang kecil dahulu, duduk di depan jam dinding, menunggu azan Zuhur. Begitu suara dentuman bedug dan lantunan azan terdengar, kita langsung menyerbu makanan dengan perasaan bangga karena berhasil puasa setengah hari. 

Puasa bedug adalah sebuah kearifan lokal yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia sejak era Walisongo.

Tradisi ini melibatkan orang tua yang menyuruh anaknya berpuasa sejak pagi, namun memperbolehkan mereka untuk berbuka atau makan ketika azan Zuhur berkumandang. Setelah beristirahat dan makan, anak tersebut disuruh untuk berpuasa kembali hingga waktu Magrib tiba.

Tujuan utama dari puasa bedug ini sangat mulia, yakni sebagai bentuk pembiasaan atau latihan (tamrin) agar anak-anak secara bertahap terbiasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Harapannya, ketika mencapai usia baligh, mereka akan mampu melaksanakan ibadah puasa secara penuh tanpa kesulitan yang berarti. 

Menariknya, tradisi Puasa Bedug ini memiliki kemiripan prinsip yang kuat dengan metode yang pernah dilakukan oleh para Sahabat Nabi Muhammad saw. di masa awal Islam.

Hal ini termaktub dalam kitab Shahih Bukhari, dari riwayat Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Beliau menceritakan bahwa pada hari Asyura’, Nabi saw. memerintahkan agar siapapun yang sudah makan di pagi hari untuk berpuasa hingga Magrib, dan yang telah berpuasa untuk melanjutkannya.

“Rubayyi’ berkata, kemudian kami mengajak anak-anak untuk berpuasa, kami buatkan bagi mereka mainan dari kain. Jika mereka menangis, maka kami beri mainan itu, begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka.” 

Kisah Sahabat di atas menunjukkan adanya upaya serius dan kreatif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari rasa lapar dan haus. Sama seperti puasa bedug yang memberikan jeda (berbuka Zuhur) agar anak tidak trauma dan tetap termotivasi untuk melanjutkan puasa.

Pada akhirnya, tradisi Puasa Bedug adalah bukti bahwa pendidikan agama terbaik datang dalam dosis yang bertahap, penuh kasih sayang, dan didukung oleh kearifan lokal. Ia mengubah kewajiban menjadi sebuah tantangan yang bisa ditaklukkan.

Sumber Pondok Lirboyo
 #Hikayah #pondokbasmala #basmalagubug #sdbasmala 

BASMALA ADALAH


 

BASMALA bukan sekadar singkatan, melainkan janji kami kepada orang tua untuk melahirkan generasi dengan 7 (tujuh) karakter utama:

Berikut adalah penjabaran mendalam mengenai akronim BASMALA (Berilmu, Agamis, Santun, Mandiri, Amanah, Luhur, Aktif).

1. B - BERILMU (Knowledgeable)

  • Makna: Memiliki kompetensi akademik yang mumpuni, baik dalam ilmu agama (Diniyah) maupun ilmu pengetahuan umum (Sains & Teknologi).

  • Implementasi di Sekolah:

    • Siswa menguasai dasar-dasar keislaman (Fiqih, Al-Qur'an Hadits, Bahasa Arab) sebagai pondasi hidup (60% Kurikulum).

    • Siswa memiliki kemampuan literasi, numerasi, dan sains yang kompetitif untuk melanjutkan ke jenjang SMP/MTs Favorit (40% Kurikulum).

    • Siswa diajarkan ilmu yang amaliah (bisa dipraktikkan), seperti ilmu pertanian modern atau teknologi sederhana yang bermanfaat bagi desa.

2. A - AGAMIS (Religious)

  • Makna: Menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar "tahu" agama, tapi "hidup" dengan agama.

  • Implementasi di Sekolah:

    • Terlihat dari pembiasaan Sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur Berjamaah yang dijalankan dengan kesadaran, bukan paksaan.

    • Memiliki hafalan Al-Qur'an (Tahfidz) sesuai target juz yang ditentukan.

    • Menerapkan adab-adab Islami, seperti berdoa sebelum makan, masuk masjid dengan kaki kanan, dan menjaga kebersihan ( thaharah).

3. S - SANTUN (Polite & Courteous)

  • Makna: Menjunjung tinggi tata krama, etika, dan unggah-ungguh (sopan santun) khas budaya Jawa yang halus, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

  • Implementasi di Sekolah:

    • Membiasakan 3S: Senyum, Salam, Salim kepada guru, orang tua, dan sesama teman.

    • Menggunakan bahasa yang baik (Krama Inggil) saat berbicara dengan orang yang lebih tua.

    • Menghormati orang tua petani; tidak malu mencium tangan ayah-ibu yang kasar karena bekerja di sawah, sebagai bentuk bakti (Birrul Walidain).

4. M - MANDIRI (Independent)

  • Makna: Kemampuan untuk melakukan tugas dan memecahkan masalah sendiri tanpa bergantung berlebihan pada orang lain, serta memiliki jiwa juang (resilience) yang tangguh.

  • Implementasi di Sekolah:

    • Siswa dilatih mengurus diri sendiri: memakai sepatu, merapikan alat tulis, hingga menjaga kebersihan kelas tanpa menunggu perintah pesuruh sekolah.

    • Menanamkan mental "Tahan Banting" layaknya seorang petani yang sabar merawat tanaman hingga panen. Tidak mudah mengeluh saat menghadapi pelajaran yang sulit.

5. A - AMANAH (Trustworthy)

  • Makna: Dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab atas segala tugas yang diberikan. Sifat ini meneladani sifat wajib Rasulullah SAW (Al-Amin).

  • Implementasi di Sekolah:

    • Jujur dalam mengerjakan ujian (tidak menyontek) dan jujur dalam berkata.

    • Bertanggung jawab saat diberi tugas piket kelas, tugas menyiram tanaman, atau menjadi petugas upacara.

    • Menjaga barang milik sendiri dan mengembalikan barang temuan yang bukan haknya.

6. L - LUHUR (Noble Character)

  • Makna: Memiliki Budi Pekerti Luhur atau Akhlakul Karimah. Ini adalah puncak dari pendidikan karakter, di mana siswa menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi bersih hatinya.

  • Implementasi di Sekolah:

    • Memiliki rasa empati dan kasih sayang kepada sesama (tidak melakukan bullying).

    • Suka menolong teman yang kesusahan dan gemar bersedekah (Infaq Jumat).

    • Menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, dan almamater di manapun berada.

7. A - AKTIF (Active & Dynamic)

  • Makna: Bergerak dinamis, sehat secara fisik, partisipatif dalam kegiatan sosial, dan peka terhadap lingkungan sekitar.

  • Implementasi di Sekolah:

    • Aktif dalam pembelajaran di kelas (berani bertanya dan berpendapat).

    • Sehat dan bugar melalui kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler.

    • Terlibat aktif dalam kegiatan Gotong Royong menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan desa (sesuai semangat desa Tambakan).

    • Kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan potensi alam sekitar (misal: membuat kerajinan dari limbah pertanian).


Kami menegaskan bahwa lulusan dari YPIS BASMALA dipersiapkan untuk menjadi Generasi Emas Indonesia. Mereka adalah anak-anak yang Berilmu tinggi namun tetap Santun membumi; anak-anak yang Agamis dalam ibadah namun Aktif berkontribusi bagi masyarakat; anak-anak yang Mandiri dan Amanah memegang kepercayaan, demi mencapai derajat kemuliaan yang Luhur di sisi Allah SWT dan manusia.