KUPATAN : Harmoni Tradisi dan Silaturahmi


 


Seminggu setelah gegap gempita perayaan Idul Fitri berlalu, suasana di berbagai sudut desa di Jawa Tengah kembali menggeliat. Di pekarangan rumah, janur-janur kuning mulai dianyam dengan telaten oleh jari-jemari warga, dari yang sepuh hingga yang muda. Asap tungku kayu bakar mengepul dari dapur-dapur, membawa aroma gurih santan dan beras yang ditanak perlahan. Inilah momen jatuhnya Lebaran Ketupat, atau yang oleh masyarakat Jawa Tengah akrab disebut dengan Tradisi Kupatan.

Kupatan biasanya dirayakan pada hari kedelapan bulan Syawal, setelah umat Muslim menyelesaikan ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari. Tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan warisan budaya yang sarat akan makna filosofis dan nilai-nilai keislaman yang membumi.

Warisan Filosofis Sunan Kalijaga

Konon, tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa melalui pendekatan budaya. Dalam filosofi Jawa, "Kupat" merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan) dan Laku Papat (empat tindakan).

Laku Papat tersebut melambangkan empat tahapan spiritual yang mendalam:

  • Lebaran: Berasal dari kata lebar yang berarti selesai. Ini menandakan usainya ibadah puasa Ramadan dan pintu ampunan yang terbuka lebar.
  • Luberan: Berasal dari kata luber atau melimpah. Simbol dari anjuran untuk berbagi dan bersedekah kepada sesama, seperti halnya mengeluarkan zakat fitrah.
  • Leburan: Berarti melebur atau habis. Di momen ini, segala dosa dan kesalahan antarmanusia dilebur hingga suci kembali melalui proses saling memaafkan.
  • Laburan: Berasal dari kata labur atau kapur putih. Bermakna bahwa manusia harus kembali suci, menjaga kebersihan hati, dan menerangi kehidupannya dengan niat yang baik.

Selain ketupat, ada pula pendamping setianya yaitu Lepet (terbuat dari ketan, kelapa parut, dan kacang tolo). Lepet diartikan sebagai Silep kang rapet, yang bermakna mengubur dalam-dalam segala kesalahan masa lalu dan tidak mengungkitnya kembali.

Puncak Perayaan dan Silaturahmi

Pada hari Kupatan, ketupat yang sudah matang sempurna setelah direbus berjam-jam akan dihidangkan bersama lauk pauk khas seperti opor ayam, sayur lodeh tewel (nangka muda), sambal goreng ati, dan bubuk kedelai.

Masyarakat Jawa Tengah biasanya melakukan tradisi ater-ater atau saling menghantarkan ketupat beserta lauknya kepada tetangga, kerabat, dan tokoh masyarakat. Pertukaran rantang ini menjadi medium yang sangat indah untuk merekatkan kembali tali silaturahmi (paseduluran), menghapus sekat status sosial, dan memastikan tidak ada satupun tetangga yang tidak ikut merasakan nikmatnya perayaan.

Kupatan adalah wajah Islam Nusantara yang ramah. Melalui helaian janur yang dianyam rumit, masyarakat Jawa Tengah diajarkan bahwa meskipun sifat manusia itu penuh dengan "kerumitan" dan kesalahan, lewat keikhlasan saling memaafkan, semuanya akan kembali menjadi putih dan bersih.

tradisi Kupatan ini di lakukan dan terus dijaga dengan indah oleh keluarga besar Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial (YPIS) Basmala.

Bagi YPIS Basmala Grobogan, Kupatan bukan sekadar rutinitas menyantap hidangan, melainkan sebuah laku spiritual dan sosial yang sarat makna. Rangkaian tradisi ini dimulai dengan sebuah langkah penuh ketawadukan: berziarah ke Makam Mbah Pilang, sosok sesepuh dan leluhur yang dihormati di wilayah tersebut.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar